Kisah, Memorial

Mahfud MD : Terimakasih Pak Harto

SOEHARTONESIA.ID, –Prof. Dr. Mahfud. MD, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada bekas presiden Soeharto dan seluruh pengurus yayasan beasiswa Supersemar.

Mahfud MD mengingat betul bagaimana beasiswa tersebut sangat membantunya dalam menyelesaikan pendidikan tinggi strata 1 hingga strata 3.

“Tetapi ada ironi. Pak Harto mendidik kita tapi banyak (penerima Supersemar) yang menjatuhkan pak Harto. Termasuk Indria Samego,” kelakar Mahfud pada Silaturrahmi Dewan Pakar, Majelis Pertimbangan, Pengurus Pusat, & Alumni Penerima Beasiswa Supersemar, di MK, Rabu (20/2/2013).

Untuk mengenang jasanya, Mahfud pun mengajak para alumnus penerima Supersemar mengucapkan terima kasih kepada Soeharto.

Terlepas dari kesalahan yang dibuatnya.

“Kalau pak Harto punya kesalahan sebagai manusia, sehingga harus berhenti secara itu, tentu kebaikannya, sebagai manusia yang beradab, harus kita kenang dan mengucapkan terima kasih ke beliau,” lanjut Mahfud yang kini menjabat sebagai ketua MK.

Menurutnya, para alumnus wajib mengingat jasa-jasa presiden ke-2 Indonesia itu karena banyak membangun masjid dan memberikan beasiswa.

“Pak Harto banyak membangun masjid dan beasiswa. Itu adalah Sodakoh jariyah juga orang yang sedang mencari ilmu dan itu ilmu yang bermanfat,” ujarnya katanya.

“Kita ada yang jadi wakil menteri, peneliti, pejabat, macam-macam. Ilmunya bermanfaat karena beasiswa. Walau kita ikut menjatuhkan, biar dosanya tidak terlalu banyak,” katanya.

Keterangan Mahfud, dia menerima beasiswa Rp 25 ribu setiap bulannya.

Tribunnews.com

Piye Kabare

Piye Kabare Le, Penak Jaman Ku Tho ?

soehartonesia.id, —Via telephon saya berbincang cukup lama dengan seorang kawan semasa kuliah. Bukan kebetulan ia juga tidak asing dengan media sosial, ia lebih aktif di jejaring facebok, kurang begitu aktif di aplikasi sosial media twiter, saya sebaliknya.

Ngalor ngidul kami bicara, kangen-kangenan, kami sama-sama di pergerakan saat kuliah. Dalam perbincangan ia juga selipkan mengenai isu-isu yang berkembang di media, pun sosial media, biasa lah, politik topik hangat menjelang pilpres 2019

“saya intip akun ente brow, sepertinya sekarang balik jadi pencinta Orba ya brow, demonstran musiman, ha ha ha, ia tertawa. Apa udah segitunya pemerintaan saat ini kok sampai mau balik lagi ke masa Orba”, katanya menambahkan .

Saya enggan untuk meneruskan pembahasan, saya hanya menjawabnya dengan tertawa saja.

Usai bertelephon ria, saya terlintas fenomena “piye kabare le, penak jamanku tho” yang sering kita temui dalam bentuk meme konten digital, stiker, sablon pada kaos oblong, gambar pada bak truk dan bayak lainya yang menampilkan gambar pak Harto sedang tersenyum, mengangkat tangan dan berujar seperti di atas.

Rasa-rasanya, mau tidak mau, suka tidak suka hal-hal demikian membawa kita yang lahir di era sebelum 90 an merasakan, ternyata amat banyak juga sisi positip yang bisa kita ambil dari era dimana pak Harto memimpin, dan layak dirindukan.

Setelah dua puluh tahun kita hanya dicekoki dengan berbagai berita miring keburukan era Orde baru, rasanya saat ini baru saya bisa menilai bahwa betapa tendesiusnya pemberitaan miring terhadap Soeharto saat itu, setidaknya saya merasakan demikian.

Saya mengutip apa yang dikatakan salah satu putri pak Harto, Titiek Soeharto, yang saya baca di sosial media. Pak Harto pernah berujar kepadanya,

” Pada saatnya, sejarah akan membuktikan apa yang telah bapak dan ibumu buat untuk bangsa ini”.

Terus terang saya bergidik membacanya, saya juga bagian dari gerakan yang bersuara hingga parau dalam setiap demo-demo untuk menggulingkan pak Harto.

Suka tidak suka, dengan jernih saya harus mengakui bahwa tidak sedikit capaian pemerintahan Soeharto dalam memajukan bangsa ini, terlepas dari segala kontrofersi, toh secara hukum pun apa yang dituduhkan tidak terbukti.

Beberapa contoh, tengok saja blue print pembangunan pemerintahan Suharto. Semua tercatat dalam sebuah Rencana Pembangunan Jangka Panjang I (RPJPI) 1968-1998. RPJP I ini di-breakdown dlm program pembangunan lima tahunan yang sering disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).

Di Repelita VI ini, tepatnya 1997, berdasarkan catatan data perekonomian saat itu terlihat pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7 persen pertahun. Sedangkan tingkat inflasi selalu bisa dipertahankan di bawah 10 persen.

Di sisi ekspor, pertumbuhan ekspor non migas mencapai rata-rata 20 persen per tahun sedangkan pertumbuhan ekspor barang manufaktur rata-rata 30 persen per tahun, sungguh capaian yang luar biasa. Bahkan pertumbuhan ekonomi era kini pun untuk mengejar pertumbuhan sampai pada 6 persen per tahun saja pemerintah belum mampu.

Tentu saja hal itu menjadi bagian juga dari alasan munculnya kalimat-kalimat “piye kabare, penak jaman ku tho”, jadi tidak hanya muncul tanpa sebab, atau sekedar joke-joke saja, atau mungkin seperti yang banyak dituduhkan bahwa hal tersebut bermuatan politis.

Mungkin masyarakat tidak secara keseluruhan mengetahui permasalahan yang dihadapi pemerintah saat ini dalam rangka untuk mensejahtrakan masyarakat, masyarakat cenderung lebih pada berprilaku,berujar dan bersikap berdasarkan apa yang dirasakan, faktanya, rasa itu menghasilkan kalimat-kalimat pembanding semacam itu, yang secara substantib memang merindukan era dimana pak Harto memimpin.

Kalau saya pribadi lebih kepada rindu keteraturan, bagainana setiap program era pak Harto memang tersusun dengan sistimatis, dan tahap-tahapannya terlaksanakan dengan tepat . Seperti penyerapan anggaran proyek infrastruktur yang hingga mencapai 80 persen dalam pelaksanaannya. Sekarng? Boro-boro. Walhasil, 90 persen infra struktur saat ini adalah warisan orde baru. Jadi, amat aneh jika kita memungkiri capaian itu hanya karena pemberitaan yang seharusnya mulai kita filtering.

Tentunya kita tidak sedang merindukan dalam tataran kosong ataupun ingin menghadirkan era Orde baru kembali, tetapi untuk menggagas suatu rekonstruksi total tata kelola kenegaraan pemerintahan kita saat ini, saya merasa kita harus menghadirkan kembali kekuatan sejarah Suharto di masa kini, demi masa depan Indonesia.

 

 

 

 

 

dari :  Okky Ardiansyah