Berkarya, Politik, Tokoh, Ulasan

Mengenal Muhammad Abubakar Maulana, SE. Caleg Muda Partai Berkarya

SOEHARTONESIA.ID,-  Kaum Milenial merupakan jumlah pemilih terbesar pada pemilu 2019 ini, tentunya setiap partai politik berkepentingan untuk dapat menarik simpati mereka, dan salah satu cara untuk mendapat perhatian calon pemilih muda itu dengan adalah dengan menempatkan kader muda terbaiknya untuk terjun mencalonkan diri sebagai anggota legeslatif.

Hutomo Mandala Putra, Ketua Umum Partai Berkarya pada satu kesempatan mengatakan : “Tentunya berdasarkan berbagai latar lelakang pertimbangan, partai Berkarya berharap dengan masuknya pemuda sebagai legislator, maka akan membawa era baru dalam perpolitik di tanah air, menghadirkan kesegaran yang baru, lebih agresif dan tentunya anak muda akan lebih dapat mahami aspirasi golongan milenial tersebut.”

Sejalan dengan apa yang dikatakan ketua umum partai Berkarya itu, menurut Muhammad Abu Bakar Maulana, S.E, Caleg muda Partai Berkarya untuk di dapil XI DKI saat ditemui di kediamnanya

“Anak muda harus terus di-rangsang untuk berpolitik, masuk dalam partai politik agar tidak hanya mampu mengkritisi dari luar sistem, tapi punya tanggung jawab untuk terlibat langsung, ujar putra dari pasangan Sidik bin Arsudin dan Hj. Waznah binti KH. Abdullah Bin Iweng. Cucu dari Ulama Pedongkelan, Cengkareng itu.

“Mau tidak mau suka tidak suka, keterlibatan anak muda yang cenderung idealis sangat dibutuhkan di dunia politik,” tukas putra dari pemegang kitab Pakem Banten itu menambahakan.

Muhammad Abu Bakar Maulana atau akrab di-sapa dengan panggilan Alan, menghabiskan masa kecil di Pedongkelan, Cengkareng Jakarta Barat. Dibesarkan dalam tradisi keluarga Santri dari Ibunya yang masih Keturunan Jid Doel / KH. Abdul Ghoni Bin KH. M. Zein Bin Muqri Bin Sama’un Basmol, Kembangan Jakarta Barat, dan sejak kecil belajar ilmu Agama Islam, Serta di- didik Jawara oleh Ayahnya.

Caleg Muda Berkarya Dapil DKI IX yang sudah mulai aktif di berbagai organisasi sejak dibangku sekolah itu menegaskan bahwa dirinya bukan mendadak Caleg, pada pertengahan tahun 2017 Ia Ikut Mendirikan Partai Berkarya tingkat Provinsi DKI Jakarta dan pada tahun 2018 Ia menjabat Sebagai Ketua Bidang DPW DKI Jakarta.

“Alhamdulilah, walaupun berbagai kesibukan organisasi, di tahun yang sama saya tetap berupaya untuk melanjutkan study S2, dan keputusan saya untuk turut mencalonkan diri sebagai anggota DPR-D DKI adalah tekad Jihad Konstitusi yang ingin saya perjuangkan demi tercapainya warga yang Religius dan Bersolusi, ujar Mahasiswa yang mendapat Peringkat 1, Calon mahasiswa terbaik di Universitas Al Azhar Indonesia Jurusan Megister Ilmu Hukum itu.

Calon Legislatif DPRD Provinsi DKI Jakarta di Dapil IX : Kec.
Cengkareng, Kalideres dan Tambora yang di Internal Partai Berkarya dipercaya sebagai Wakil Sekretaris dalam Tim Pemenang Partai Berkarya DPW DKI Jakarta itu saat ini juga terlibat menjadi Pengurus Badan Pemenangan Provinsi (BPP) di DKI Jakarta untuk pasangan Prabowo-Sandi.

Caleg muda paryai Berkarya yang juga Cucu dari KH. Syarifuddin Abdul Ghoni Lc, M.A tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Umum MUI DKI 2013-2018 dan saat ini menjabat sebagai Rais PBNU 2015 – 2020, Ia mengatakan akan konsen pada permasalahan penyediaan pekerjaan yang berkelanjutan, Penataan Kota Jakarta yang Berbudaya, Strategis dan berazaz Kekeluargaan.

Selain itu menurutnya, Perawatan kesehatan yang layak , pengangkatan Guru Honorer, mensejahterakan Guru Pesantren serta Pendidikan berkualitas yang Gratis Hingga Sarjana, membinaan serta mendukung kegiatan positif di kalangan Generasi Muda dan Melestarikan serta
Mengembangkan Budaya Jakarta adalah tujuan yang akan diperjuangkannya (red)

Opini

Dan, Tommy Soeharto Stay Cool Saja

soehartonesia.id – Tommy Soeharto, yang ketua umum Partai Berkarya itu. Putranya pak Harto itu. Dia stay cool saja. Tidak larut dalam riuh ajang pilpres yang rasanya hampir semua politisi ingin unjuk gigi mencuri celah untuk mendapatkan panggung.

Apalagi sekelas politisi-politisi newbie yang banyak di partai PSI. Politisi yang tampaknya jarang turun sosialisasi, tapi maksimal cari sensasi.

Entah berapa miliyar yang dihabiskan membayar media untuk memuat komen-komen konyol mereka itu. Saya menduga, di atas ratusan milyar. Pertanyaannya: bohirnya siapa ? Partai baru kok bisa begitu tajirnya.

Putra mantan presiden Soeharto juga tahu persis bahwa berbagai lembaga survei menjadikan partainya sebagai bulan-bulanan. Tapi, dia: stay cool saja.

Beberapa minggu lalu, terakhir saya berjumpa di ruangan kantornya, masih Stay Cool juga. Senyumnya misterius, dan yakin partai Berkarya lolos PT 4 persen. Saya, takjub. Ada ketenangan khas pak Harto di jiwanya.

Pada kesempatan itu, ia berpesan: “sekarang saatnya berkarya, bukan saatnya banyak bicara. Berkaryalah terus, maka rakyat akan menilai.”

Nusa Tenggara Barat digerusnya. Papua, sudah pasti. NTT dikelilinginya. Berdasarkan pengamatan, hanya Tommy Soeharto Ketua Umum Partai yang menjangkau seluruh darah di Nusa Tenggara Timur itu.

Jawa Tengah: Surakarta, Demak, Semarang, Purbalingga, disambanginya. Jawa barat, ia berkendara sendiri untuk menjangkaunya. Ketua umum Partai Berkarya itu bergerak dalam hening. Dengan ketenangan yang paripurna. Mencuri celah diantara riuh

(Ardi)

Tokoh

Kunjungi Kantor Baru LMA, Tommy Soeharto Disambut Hangat Warga Papua

Hutomo Mandala Putra atau akrab disapa Tommy Soeharto, yang juga ketua umum partai Berkarya pada (Senin 3/3/019) lalu mengadakan kunjungan ke beberapa wilayah di Papua, dalam rangkaian kunjungannya tersebut, putra mantan presiden Soeharto itu berkesempatan untuk meninjau langsung kantor Lembaga Masyarakat Adat (LMA) di Merauke yang sedang dalam proses pembangunan.

Tommy Soeharto dan rombongan saat bersilaturahmi ke kantor LMA tampak tidak berseragam partai, padahal kita ketahui Tommy juga maju sebagai Calon DPR-RI dapil Papua.

Namun, ditegaskan oleh salah satu anggota rombongan, bahwa kunjungan Tommy tidak dalam rangka kampanye, atau ada kaitan dengan politik, murni hanya bertujuan untuk melakukan Silahturahmi.

“Perlu saya tekankan, agar tidak timbul persepsi yang salah, bahwa kedatangan pak Tommy ke kantor LMA ini hanya tujuan untuk bersilahturahmi,” ujarnya. Kehadiran putra mantan presiden Soeharto tersebut disambut hangat oleh para warga wasyarakat Marauke, serta pengurus LMA.

Di hadapan wartawan, Tommy Soeharto mengucapkan banyak terima kasih sudah diundang untuk datang bersilahturahmi di kantor pertama LMA itu. Ia mengatakan juga bahwa ada kebanggaan sekaligus keprihatinan terkait berdirinya kantor LMA tersebut.

“Pertama, membanggakan karena akhirnya LMA mempunyai gedung sendiri untuk tempat melakukan kegiatan-kegiatan LMA, ujar Tommy, namun yang memprihatinkan adalah, setelah 16 tahun baru LMA memiliki gedung sendiri, padahal hal ini sangat penting sekali untuk menunjang kegiatan-kegiatan masyarakat Papua,” ujar Tommy.

Tommy Soeharto juga menambahkan: “karenanya, penting untuk kedepannya kita harus berbuat lebih baik lagi, khususnya LMA dan lain-lain yang terkait, untuk bersinergi dalam membangun Papua agar lebih baik lagi.”

Ia menambahkan pula bahwa “Papua dangan potensi sumber alam yang berlimpah akan bisa menjadi sumber pendapatan yang besar bagi negara pada umumnya dan untuk kesejahteraan rakyat Papua khususnya.”

Pada kesempatan yang sama saat ditanya wartawan terkait “apa ada pesan khusus terkait pembangunan LMA,” Tommy mengatakan bahwa: “pembangunan LMA tentunya sudah dianggarkan dan tinggal dijalankan saja serta bagaimana mengisinya dengan aktivitas yang bertujuan utama untuk masyarakat Papua.”

Selain itu, Tommy juga menambahkan bahwa “program ekonomi kerakyatan yang kami usung sangat tepat untuk dijalankan di Papua, bagaimana agar masyarakat mampu mengelola Sumber Daya Alam Papua untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.” (Red)

Opini

Parade Nusantara, Langkah Tommy Soeharto Sentuh Desa ke Desa

Ketua umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra, atau akrab dipanggil Tommy Soeharto menyebut anggaran dana desa yang dikucurkan pemerintah belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Anggaran senilai Rp 70 triliun yang dikucurkan pemerintah selama ini hanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur di desa saja.” Dana yang besar itu belum menghasilkan program yang bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ujar Tommy Soeharto pada acara pengukuhan ketua umum partai Berkarya itu sebagai Ketua Dewan Pembina Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara. Saya menyimak pernyataan itu di berbagai media Online Nasional.

Saya termasuk yang mengikuti langkah-langkah politik partai-partai baru yang turut berlaga di pemilu 2019 ini. Berbagai manuver dilakukan para politisi-politisi partai-partai baru itu. Tidak sedikit dari politisi newbie yang tampaknya jarang turun sosialisasi, tapi untuk meningkatkan populeritas diri dan partainya, justru mengambil langkah maksimal dengan mencari sensasi.

Sebut saja PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang entah telah menghabiskan berapa miliyar untuk membayar media demi memuat komentar-komentar konyol mereka yang rasanya hanya untuk memunculkan sensasi. Namun, hal tersebut rasanya tidak terjadi dengan Tommy. Ketua umum partai Berkarya itu Stay Cool saja.

Partai Berkarya partai baru, namun tidak dengan ruhnya. Bayang-bayang sukses pembangunan era pak Harto mantan presiden kedua RI adalah ikon yang kuat bagi partai itu.

Bagaimanapun kita tidak bisa menolak bahwa trah politik itu ada dan mengakar di Indonesia, dan partai Berkarya sepenuhnya digawangi keturunan presiden RI tersebut. Sukses pembangunan dengan moto Dari Desa ke Desa, program nasional Transmigrasi dan prestasi Swasembada Pangan di era pak Harto memimpin adalah keberhasilan yang layak dijual kembali kepada masyarakat oleh partai Berkarya, dan Fakta di lapangan; rindu pak Harto itu memang nyata.

Pembangunan pedesaan pada era Orde Baru tidak saja berhasil membawa Indonesia mencapai keberhasilan dalam hal fisik. Diawali dengan kondisi yang tidak mudah, namun pemerintah dibawah kepemimpinan pak Harto saat itu mampu memanfatkan momentum dengan baik; kondisi masyarakat yang relatif homogen dan rasa kebersamaan yang masih kuat sebagai satu komunitas, ditangkap dengan jeli oleh presiden Soeharto, kemudian dimanfatkan dengan pola yang tepat.

Pembangunan infrastruktur-pun dilakukan beriringan dengan upaya untuk meningkatkan produksi pangan, maka, tercapailah swasembada beras. Mungkin sebab itu Tommy dengan lugas pada pidatonya di acara Parade Nusantara mengkritik dengan mengatakan bahwa “Dana Desa yang begitu tambun hanya berbuah pembangunan infrastruktur, tidak berhasil menjamin kesejahteraan masyarakat desa.”

Kritik yang dilontarkan Tommy Soeharto itu bagi saya sah-sah saja, karena kita ketahui, di era kekinian ini lumbung produk pangan nasional bukan bersumber dari desa, tetapi import. Sedangkan, kita ketahui bahwa mayoritas penduduk desa di Indonesia berprofesi sebagai petani.

Tentunya hal tersebut sangat bertentangan dengan pola kerja sukses pemerintahan pada era pak Harto yang kini diusung kembali oleh partai Berkarya, yang ketua umumnya telah dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pembina Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara.

Okky Ardiansyah
Analis Annas Digital

Opini

Merealisasikan Janji Gagal Jokowi

Oleh : H.ANHAR,SE, Politisi Partai Berkarya, soehartonesia.id

Prabowo pun kali ini masih tidak jauh berbeda dengan 2014 lalu. Gaya pidato menggugah rasa Nasionalismenya masih mengambang di awang-awang.

Pidato menggelegarnya kurang konteskstual. Visi Misi-nya sama saja, berbasis janji. Lalu, apa beda dengan Jokowi?

Ramai diungkap di Sosial Media mengenai 61 janji Jokowi yang sukses menghantarkan ia duduk di Istana tak ter-realisasi. Kini, Jokowi bikin janji lagi. Alangkah naifnya kalau kemudian penantang juga hanya buat janji. Tiga paket janji dalam dua kali pemilu.

Kegagalan Jokowi merealisasikan janji harusnya diangkat dengan cerdas oleh Prabowo, tidak hanya sekedar dijadikan amunisi debat kusir tim kampanyenya untuk menyerang Jokowi. Karena sejatinya rakyat ingin melihat solusi .

Setidaknya solusi dari Prabowo untuk merealisasikan kegagalan janji Jokowi. Kini, Jokowi berusaha mengaburkannya dengan janji-janji baru, seolah tak pernah berjanji di 2014 lalu.

Sedangkan Prabowo tak mengangkat solusinya. Sebut saja mobil ESEMKA. Sejak awal saya tidak pernah percaya Jokowi akan mampu merealisasikan mobil Nasional itu. Apa sebab? ASTRA!

Lalu, beranikah Prabowo menggebraknya? Jika tidak, ya sama saja. Narasi Nasionalis berapi-api harusnya menawarkan kepada rakyat solusi nyata dan terukur, misalnya akan memaksa ASTRA harus terjun langsung menggarap mobil Nasional, solusi terhadap kegagalan Jokowi akan janji Mobil Nasionalnya.

Prabowo harus mengimbangi program kerja andalan Jokowi membagi-bagikan jutaan sertifikat tanah yang patut kita waspadai keberadaan-nya kelak kemudian hari justru akan menimbulkan masalah.

Prabowo bisa saja mengimbanginya dengan membagikan sebagian lahan milik-nya yang begitu luas kepada Petani yang tidak memiliki lahan sebagai langkah nyata Pengejawantahan semangat Reforma Agraria.

Mengajak, mendesak para konglomerat dan penguasa yang memiliki tanah lebih untuk melakukan hal yang sama sebagaimana yang ditentukan oleh Undang undang agar dengan sukarela menyerahkan kepada Rakyat melalui Pemerintah sebagai perwujudan Reforma Agraria.

Probowo harus mampu lepas dari tekanan kekuatan Industri Asing, juga tekanan konglomerat hitam dengan mengangkat rasa Nasionalisme berbasis industri dan reforma Agraria. Karena, jika hanya meniru narasi bung Karno namun tidak kontekstual, maka akan terasa ketinggalan zaman.

Yang harus dilakukan Prabowo adalah mununjukkan kepada rakyat bahwa ia mampu memberi solusi dan membuat tunduk raksasa-raksasa industri asing dan konglomerat-konglomerat hitam.

Jika Prabowo hanya menawarkan visi misi berbasis janji, saya tak yakin ia akan mampu mengalahkan Jokowi yang dalam dua bulan jelang pemilu ini akan terjun dengan kekuatan logistik tambun, karena di saat rakyat sedang sulit semacam ini, uang maha kuasa.

Tentunya rakyat Indonesia akan iklas menahan lapar untuk berdiri dibelakang Prabowo, seperti Soekarno dulu mengGanjal perut rakyat dengan pidatonya, asalkan, yang ditawarkan dua bulan ke depan adalah solusi kongkrit.

Kecenderungannya sudah tampak, bahwa rakyat kecewa, Jokowi gagal mengelola Negara, gagal merealisasi janji-janjinya, tinggal bagaimana Prabowo membuktikan dengan menawarkan solusi yang tepat sasaran, bukan yang hanya mengambang di awang-awang.

Anhar, Caleg DPR RI Partai Berkarya Dapil Banten I Nomor 1
Anhar, Caleg DPR RI Partai Berkarya Dapil Banten I Nomor 1