Kisah, Piye Kabare, Sosial

Belajar Ikhlas Dari Pak Sanusi

Oleh : Raslinna Rasidin
Duta Kemanusiaan dan Caleg Partai Berkarya

Keluarga yang ekonomi bawah bukan berarti lemah dan tidak berdaya. Buktinya, semangat juang mereka kadang begitu mengagumkan. Mereka lebih tegar dan pantang menyerah. Mereka pekerja keras tanpa kata menyerah.

Ketegaran para pejuang keluarga merupakan salah satu aspek yang kadang terlupakan, sebut saja salah satu contoh bagaimana mereka berjuang mengumpulkan hasil dari keringat mereka agar dapat membayar biaya pendidikan sebagai bentuk tangungjawab mengantarkan anak-anak mereka ke gerbang kesuksesan.

Dengan hasil harian yang rasanya jauh dari kata cukup, dibutuhkan kecerdasan, kesabaran, untuk mengelola agar dapat memenuhi kebutuhan hari ini, esok, dan masa depan. Dan, hal itu tidaklah mudah.

Pak Sanusi contohnya, laki-laki paruh baya yang saya temui saat melakukan kegiatan belusukan di dapil saya, kecamatan Koja Jakarta utara, ayah dari dua orang anak yang kini bersekolah di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) itu hanya berpenghasilan rata-rata 30 hingga 50 ribu per hari dari profesinya sebagai pengayuh Becak.

“Sejak kecil, memang anak-anak dilatih hidup prihatin, mbak,” ucapnya kepada saya.

“Pokoknya yang penting kalian bisa sekolah, karena bapak tidak mau kalian bernasib seperti bapak.

“Pokoknya jangan punya keinginan yang neko-neko, itu yang selalu saya tekankan kepada anak-anak saya,” tuturnya.

“Selain itu saya juga menanamkan ajaran agama sejak dini, karena yang saya pahami, dengan membekali mereka dengan pemahaman agama, maka anak-anak saya akan dapat menjalani kehidupan dengan ikhlas,” ujarnya menambahkan.

Meski mengalami banyak rintangan, pak Sanusi telah membuktikan bahwa perjuangan hidup yang dibarengi dengan tekad yang kuat akan menghantarkannya sampai kepada tujuan.

Faktanya, banyak keluarga prasejahtera yang memiliki anak-anak yang mampu mengukir prestasi hebat, membanggakan. Keluarga pak Sanusi adalah salah satu contohnya. Dengan segala keterbatasan, kedua putranya tercatat sebagai siswa berprestasi di sekolahnya.

https://mobile.twitter.com/Sahabat_Raslina
Opini, Tokoh

Caleg Perempuan Berkarya di Dapil Neraka

soehartonesia.id

Nama-nama politikus terkemuka bakal berlaga di Pemilihan Umum Anggota Legislatif (Pileg) 2019. Sejumlah kawasan seolah menjadi daerah pemilihan (dapil) neraka karena mempertemukan sejumlah nama besar untuk memperebutkan kursi Senayan.

Sebut saja dapil DKI III, dapil ini bagi politisi juga dianggap sebagai ‘dapil neraka’. Dapil DKI III meliputi Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu. Selain masyarakatnya yang heterogen dapil 3 DKI adalah barometer kemenangan bagi partai-partai sehingga tokoh dan politisi gaek sengaja diterjunkan partai untuk berlaga di dapil tersebut

Sederet nama anggota dewan juga maju lagi lewat Dapil DKI III, antara lain politikus senior Yusril Ihza Mahendra. Ketua Umum PBB ini juga ada di nomor urut 1. Charles Honoris (PDIP), Effendi Simbolon (PDIP), dan Ahmad Sahroni (NasDem), juga Abraham Lunggana (Lulung) yang kini maju dari PAN.

Di jajaran nama baru ada Raslina Rasyidin, Partai Berkarya. Artis yang juga aktivis perempuan ini turut berlaga untuk meraih suara di dapil 3 DKI (dapil neraka). Partai Berkarya, Partai baru besutan Tommy Soeharto itu memang sejak awal pasang target tinggi untuk mengincar kursi legislatif, sehingga tentunya akan totalfootball untuk memenangkan kadernya.

“Berdasarkan hasil survey, dapil 3 DKI memang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi, disebabkan masyarakatnya yang heterogen, namun saya yakin bahwa saat ini masyarakat kita adalah masyarakat dengan kualitas pemahaman demokrasi yang baik, sehingga masyarakat tentunya akan menentukan pilihan dengan cermat,” ujar Raslina Rasyidin saat diwancarai redaksi (Rabu, 19 September 2018)

“Kami, di Partai Berkarya memandang khususnya untuk Dapil DKI 3, beberapa priode ini justru terjadi kemunduran. Dari 8 kursi yang diperebutkan belum ada wakil perempuan, sedangkan 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen sebagai wakil rakyat adalah salah satu upaya nyata untuk meningkatkan peran perempuan dan hal inilah yang akan kami perjuangkan, “ujarnya.

“Fakta yang tidak bisa kita pungkiri, bahwa 98 persen permasalahan-permasalahan terkait anak dan perempuan seperti tingkat kematian ibu melahirkan, gizi buruk, kekerasan dalam rumah tangga, human traffiking, pendidikan dan kesehatan terhadap anak, semua kegiatan terkait penanganannya dilakukan oleh perempuan, sehingga keterwakilan perempuan di parlemen untuk memperjuangkan kepentingan perempuan menjadi hal mutlak, dan masyarakat sangat mengerti mengenai hal itu,” ujarnya menambahkan.

“Jika dikatakan persaingan di dapil DKI 3 akan ketat karena banyak figur tokoh dan politisi gaek, iya, tetapi saya meyakini bahwa masyarakat akan memilih berdasarkan pengamatan bagaimana Integritas Sosial caleg yang akan dipilih. Sehingga point pentingnya, masyarakat akan menilai bagaimana kepedulian seorang caleg terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” tutupnya. (Red)

Raslina Rasyidin