Piye Kabare, Sosial, Ulasan

Rakyat Sedang Menghukum Penguasa Dengan Angka – Angka

 

Soehartonesia.id

Meja bundar dari kayu jati kelas satu. Piring kristal bersanding dengan botol minuman air mineral premium yang, jujur, seumur hidup belum pernah aku merasakan bagaimana rasa airnya.

Ruangan besar tempat elit -elit partai politik berkumpul usai pesta pemungutan suara yang katanya berjalan demokratis.

Ya , sekolompok elit partai yang dalam 4,5 tahun terakhir ini mengatur jalannya pemerintahan, elite partai politik pendukung penguasa. Pada photo yang beredar di sosial media itu, sama sekali tak kita ketemu jejak kegembiraan terpancar dari wajah-wajah mereka .

Namun apalah daya  “negara ini menganut sistem demokrasi,” ujar seorang kawanku. “Suka tak suka, pemilihan umum harus dilaksanakan.” Pesta demokrasi yang akan berujung pahit bagi mereka.

Jejak sukses penguasa idola media ternyata, nihil. Kalaupun sukses itu ada, tak lebih hanya propaganda yang dilakukan secara masif melalui corong media berbayar yang nyata-nyata jelas menghambakan diri pada rupiah.

Tanpa kejernihan nurani, salah satu pilar demokrasi itu tega memproduksi kebohongan demi kebohongan untuk menutupi kegagalan junjungannya dalam mengatur negara . Tetapi, rakyat sudah lelah. Rakyat sudah muak dibohongi. Pemilu menjadi pengadilan rakyat yang akan menjatuhkan hukumannya.

Namun, penguasa tetaplah penguasa, singgasana kekuasaan itu terlampau manis untuk dilepaskan. Atau, mungkin terlalu beresiko untuk ditinggalkan. Terlampau banyak kebohongan untuk menutupi kerakusan para kroninya dalam mengeruk ibu Pertiwi untuk kepentingan pribadi.

Segala bentuk manipulasi pun dirancang untuk melanggengkan kekuasaan. Membentuk pasukan intelektual demi menggiring opini kemenangan, memborong Intelektual yang nyaris tidak ada jejak kecerdasan hati dalam langgam lisannya.

Mereka diberi tugas untuk bermain dengan logika angka-angka di layar kaca, untuk menutupi kecurangan yang telah mereka rancang. Namun tetap saja : sederet intelektual itupun tak mampu membuat mereka tersenyum ceria. Karena faktanya : rakyat sedang menghukum mereka dengan angka-angka .

@bengkeldodo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: