Piye Kabare, Ulasan

Propaganda Setan Gundul

SOEHARTONESIA.ID

PKI sudah jauh-jauh hari masuk ke dalam kuburannya. Tap MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menandai “kematian” organisasi komunis itu masih berlaku hingga hari ini .

Namun pertanyannya, apakah para pendukung PKI ( Partai Komunis Indonesia ) kemudian jera dalam mengejar cita-cita mereka ?
Sebuah pertanyaan besar nan sensitif untuk sekedar dijawab dengan tidak atau , iya .

Saya menyimak beredar di sosial media berbagai potongan gambar mengenai seorang politisi yang menulis buku berjudul “Aku Bangga Jadi Anak PKI”, saya belum pernah membacanya, jika bangga dalam konteks Biologis, sah.

Namun, jika kebanggaan yang dimaksud itu dalam konteks Idioligis, jelas ini akan menimbulkan persepsi bahwa bahaya laten itu mulai tampak nyata. Judul buku yang dipakai oleh penulis menimbulkan multi tapsir, dan bagi saya justru mengandung unsur propaganda.

Mengapa demikian ? Karena masyarakat kita masih trauma dengan sejarah kelam bersimbah darah ulama, rakyat jelata, bahkan 7 jendral yang dibantai dengan biadab dalam upaya pemberontakan yang dilakukan PKI.

Tidak hanya sekali, tercatat dalam sejarah, PKI tiga kali telah mencoba melakukan penghianatan terhadap bangsa indonesia dan apapun alasannya, sejarah tetap harus dijadikan pelajaran. Sampai saat ini tidak ada fakta sejarah baru terkait penghianatan PKI tersebut, yang banyak adalah tapsir baru, dan tapsir itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa PKI adalah korban.

Pancasila sebagai dasar negara dengan komunisme yang merupakan idiologi PKI tidak pernah akan bisa berdampingan , terbukti, NASAKOM (Nasionalis,Agamis, Komunis), presiden RI pertama Sokarno gagal dengan konsep ini.

Komunis , matrialistis. Sedangkan unsur ke-Tuhanan dijunjung tinggi pada sila pertama pancasila. Disadari ataupun tidak, kita bersepakat bahwa perbedaan adalah Sunatullah.

Miskin dunia belum tentu miskin akhirat dan kaya dunia belum tentu kaya akhirat. Cita-cita tertinggi masyarakat beragama bukanlah meraih dunia semata, namun bukan berarti tidak mementingkan dunia, karena bagi masyarakat beragama dunia adalah alat untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat, dan ini sangat bertetangan dengan idiologi Komunis. Itulah sebab mereka mengatakan Agama Adalah Candu.

Kita sebagai bangsa telah bersepakat, final, bahwa pancasila yang menjunjung tinggi nilai ke-Tuhanan kita jadikan dasar negara. Tentunya, hal ini harus terus kita jaga sampai kapanpun.

Pada potongan video yang dikirimkan seorang kawan kepada saya, video berisi wawancara penulis buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI,” ia mengatakan dengan gamblang bahwa saat ini anak keturunan dari orang-orang yang dulu adalah anggota partai Komunis Indonesia saat ini sudah berjumlah 15 juta jiwa, itu belum jika dihitung dengan tingkatan cucu.

Jika jumlah itu dianggap banyak dan kemudian bagi orang-orang tertentu dianggap sebagai potensi kekuatan baru untuk
membangkitkan “Setan Gundul”
( Kalimat pak Harto untuk menyebut PKI ) yang sudah terkubur sekian lama, maka, jelas, jumlah itu masih tak ada artinya, dan untuk hidup berdampingan dengan anak bangsa di Indonesia ini, maka ideologi komunis sebagaimana yang dianut oleh leluhurnya mutlak harus ditinggalakan, karena Pancasila sudah final.

 ( ARDI )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: