Apresiasi

Pak Harto Atau Jokowi Yang Memuliakan Petani ?

 

soehartonesia.id

Saya sedikit melamun, meniti tarian-tarian alam di luar jendela Bus malam yang terjebak pagi. Aktifitas di luar tampak bersemangat, awan-awan yang tersenyum pada tipis rajutannya dan sinar matahari yang masih ramah seolah memberi waktu bagi halimun tipis untuk bercengkrama dengan ujung-ujung padi.

Waktu itu pukul tujuh pagi, dari jendela Bus saya menyaksikan ribuan hektar hamparan hijau tanaman padi yang begitu nyata dirawat dengan hati. Padi tumbuh di tanah yang subur, air melimpah dan insan tani yang selalu menengadahkan tangan pada Illahi Rabi untuk keberkahan atas apa yang ditanamnya. Lalu, kurang apa lagi ?

Masih melekat diingatan saya saat kampanye Capres 2014 silam, Jokowi menyatakan : petani harus dimuliakan. Harus stop impor. Bukan cuma impor beras. Dia juga berjanji, kalau terpilih menjadi Presiden, akan menyetop impor daging, stop impor kedelai, sayur, buah, dan ikan. Alasannya, Indonesia punya semua itu, dan berlimpah-ruah.

Janji yang bagi Insan tani Indonesia se-akan guyuran hujan saat kemarau panjang itu ternyata tak kunjung datang. Pada kenyataannya, kembali petani harus berjibaku melawan dua juta quota impor beras untuk sekedar mencari tetesan keringat dari hasil panen mereka.

Pada media On line saya juga membaca, ternyata tidak hanya padi, bahkan secara akumulatif sejak Januari hingga November terjadi peningkatan impor sayuran, dan telah mencapai 732.715 ton, dengan keseluruhan nilai impor telah mencapai USD 602 juta.

Lalu, bagaimana dengan janji Jokowi memuliakan Petani ?

Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada era Orde Baru, swasembada berhasil dicapai dengan dukungan teknologi dan manajemen budidaya padi yang tarafnya lebih rendah dibanding sekarang.

Tentunya fakta tersebut mematahkan argumen yang menuduh kelemahan teknologi dan manajemen sebagai penyebab kegagalan swasembada beras sehingga impor harus terus dilakukan demi menjaga kebutuhan beras Nasional.

Orang boleh-boleh saja tidak suka dengan pak Harto, tetapi faktanya kebijakan harga padi yang diterapkan pada era pak Harto memimpin, dapat membuat petani tersenyum. Hasil panen mereka cukup, dibagi untuk mengirim wesel ke anak-anak mereka yang bersekolah di kota.

Bagi negara Agraris, Impor beras adalah langkah anti-kedaulatan pangan. Dan bagi petani, impor beras yang dilakukan rezim Jokowi kali ini berarti mengkhianati janjinya sendiri.

Maka tidaklah heran jika terpatri dalam ingatan petani : Pak Harto tidak pernah berjanji, tetapi ia berupaya sepenuh hati untuk memuliakan petani. Dan untuk kali ini, masihkah kita percaya janji ?

 

1 thought on “Pak Harto Atau Jokowi Yang Memuliakan Petani ?

  1. Jelas pak Suharto yg paling memperhatikan petani, kami di lombok lebih dikenal dengan nama Bumi Gora. Simbul itu telah ditancapkan sangat dalam seiring dgn gelar pak Suharto sebagai Bapak Pembangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: