Apresiasi, Opini, Tokoh, Ulasan

Maka, Bersiaplah

SOEHARTONESIA.ID

Oleh : Hutomo Mandala Putra
Ketua Umum Partai Berkarya

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, dengan rakyat yang siap berjuang di garda-garda terdepan, dan hal itu bukan cerita dongeng belaka.

Tercatat dengan tinta emas sejarah, bangsa kita pernah mebuktikan dengan merebut kemerdekaannya serta mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan yang berdaulat dan berkeadilan.

Bangsa kita pernah sampai pada masa gemilang, dari sebuah bangsa yang mengalami kesulitan pangan, kita dapat membalik keadaan hingga pada satu masa petani kita mampu menyumbang 100 ribu ton beras untuk menyelamatkan satu belahan dunia yang terancam kelaparan.

Dan, kini kita hanya bisa mengenangnya, tanpa mampu mengulanginya.

Sejatinya tidak ada yang berubah. Bangsa ini masih bangsa yang sama. Bangsa yang senantiasa menjunjung tinggi ke-Indonesiaannya. Bangsa yang telah bersepakat menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbagsanya.

Kita hanya kehilangan figur. Kita kehilangan panutan. Kita kehilangan figur pemimpin, pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, Berkarya bersama meraih cita-cita.

Kita kehilangan pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan yang solid.
Kita kehilangan figur pemimpin yang sikap, perbuatan, dan perilakunya lebih mendahului ucapannya.

Karena seberapa agung dan besarnya sebuah bangsa, Keteladanan itu akan selalu dibutuhkan. Karena, konsep pemahaman manusia membutuhkan penyampaian kebenaran yang baik ; bahwa kebenaran yang akan menghantarkan kepada kebaikan, kebermanfaatan, dan kemenangan.

Kita membutuhkan keteladanan dari seorang pemimpin, bukan yang bermain-main di ranah teori yang tidak dapat diimplementasikan dalam kehidupan.

Kita membutuhkan keteladanan dari seorang pemimpin yang mampu menciptakan karya nyata, untuk kemajuan bangsanya.

Bangsa ini harus mulai berbenah, berbenah untuk lepas dari penjajahan hutang luar negeri yang membuatnya malu menegakkan kepala dihadapan bagsa lain.

Dan, bangsa ini harus mulai Berkarya nyata tanpa ditunggangi kepentingan asing. Karena, bagaimana mungkin kita akan sampai pada adil dan makmur jika ternyata kita tidak berdaulat di atas tanah milik leluhur kita sendiri.

Apresiasi, Berkarya, Tokoh, Ulasan

Kampanye Akbar Prabowo – Sandi, Tommy Soeharto : Menuju Indonesia Berdaulat, Adil Dan Makmur

Assalamualaikum Wr Wb

Salam Sejahtera Untuk Semua

Saya Ketua Umum Partai Berkarya pada kesempatan Ini mengajak seluruh masyarakat yang menginginkan perubahan menuju Indonesia Berdaulat , Adil  dan Makmur untuk turut serta menghadiri Kampanye Akbar pasangan Prabowo – Sandi

Pada hari Minggu Tanggal 7 April 2019 di Glora Bung Karno

Insya Allah, Kampanye Akbar yang dimulai dengan Sholat Subuh berjaamaah serta Doa Bersama untuk bangsa akan membawa keberkahan bagi bangsa ini.

Mari kita bersama mengetuk pintu langit , menengadahkan tangan,
memanjatkan doa pada Illahi Rabbi untuk Pemilu yang damai, demi Indonesia yang lebih baik .

Wassalamualaikun Wr.Wb

Salam Berkarya
Hutomo Mandala Putra

Soehartonesia.id

Berkarya, Politik, Tokoh, Ulasan

Mengenal Muhammad Abubakar Maulana, SE. Caleg Muda Partai Berkarya

SOEHARTONESIA.ID,-  Kaum Milenial merupakan jumlah pemilih terbesar pada pemilu 2019 ini, tentunya setiap partai politik berkepentingan untuk dapat menarik simpati mereka, dan salah satu cara untuk mendapat perhatian calon pemilih muda itu dengan adalah dengan menempatkan kader muda terbaiknya untuk terjun mencalonkan diri sebagai anggota legeslatif.

Hutomo Mandala Putra, Ketua Umum Partai Berkarya pada satu kesempatan mengatakan : “Tentunya berdasarkan berbagai latar lelakang pertimbangan, partai Berkarya berharap dengan masuknya pemuda sebagai legislator, maka akan membawa era baru dalam perpolitik di tanah air, menghadirkan kesegaran yang baru, lebih agresif dan tentunya anak muda akan lebih dapat mahami aspirasi golongan milenial tersebut.”

Sejalan dengan apa yang dikatakan ketua umum partai Berkarya itu, menurut Muhammad Abu Bakar Maulana, S.E, Caleg muda Partai Berkarya untuk di dapil XI DKI saat ditemui di kediamnanya

“Anak muda harus terus di-rangsang untuk berpolitik, masuk dalam partai politik agar tidak hanya mampu mengkritisi dari luar sistem, tapi punya tanggung jawab untuk terlibat langsung, ujar putra dari pasangan Sidik bin Arsudin dan Hj. Waznah binti KH. Abdullah Bin Iweng. Cucu dari Ulama Pedongkelan, Cengkareng itu.

“Mau tidak mau suka tidak suka, keterlibatan anak muda yang cenderung idealis sangat dibutuhkan di dunia politik,” tukas putra dari pemegang kitab Pakem Banten itu menambahakan.

Muhammad Abu Bakar Maulana atau akrab di-sapa dengan panggilan Alan, menghabiskan masa kecil di Pedongkelan, Cengkareng Jakarta Barat. Dibesarkan dalam tradisi keluarga Santri dari Ibunya yang masih Keturunan Jid Doel / KH. Abdul Ghoni Bin KH. M. Zein Bin Muqri Bin Sama’un Basmol, Kembangan Jakarta Barat, dan sejak kecil belajar ilmu Agama Islam, Serta di- didik Jawara oleh Ayahnya.

Caleg Muda Berkarya Dapil DKI IX yang sudah mulai aktif di berbagai organisasi sejak dibangku sekolah itu menegaskan bahwa dirinya bukan mendadak Caleg, pada pertengahan tahun 2017 Ia Ikut Mendirikan Partai Berkarya tingkat Provinsi DKI Jakarta dan pada tahun 2018 Ia menjabat Sebagai Ketua Bidang DPW DKI Jakarta.

“Alhamdulilah, walaupun berbagai kesibukan organisasi, di tahun yang sama saya tetap berupaya untuk melanjutkan study S2, dan keputusan saya untuk turut mencalonkan diri sebagai anggota DPR-D DKI adalah tekad Jihad Konstitusi yang ingin saya perjuangkan demi tercapainya warga yang Religius dan Bersolusi, ujar Mahasiswa yang mendapat Peringkat 1, Calon mahasiswa terbaik di Universitas Al Azhar Indonesia Jurusan Megister Ilmu Hukum itu.

Calon Legislatif DPRD Provinsi DKI Jakarta di Dapil IX : Kec.
Cengkareng, Kalideres dan Tambora yang di Internal Partai Berkarya dipercaya sebagai Wakil Sekretaris dalam Tim Pemenang Partai Berkarya DPW DKI Jakarta itu saat ini juga terlibat menjadi Pengurus Badan Pemenangan Provinsi (BPP) di DKI Jakarta untuk pasangan Prabowo-Sandi.

Caleg muda paryai Berkarya yang juga Cucu dari KH. Syarifuddin Abdul Ghoni Lc, M.A tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Umum MUI DKI 2013-2018 dan saat ini menjabat sebagai Rais PBNU 2015 – 2020, Ia mengatakan akan konsen pada permasalahan penyediaan pekerjaan yang berkelanjutan, Penataan Kota Jakarta yang Berbudaya, Strategis dan berazaz Kekeluargaan.

Selain itu menurutnya, Perawatan kesehatan yang layak , pengangkatan Guru Honorer, mensejahterakan Guru Pesantren serta Pendidikan berkualitas yang Gratis Hingga Sarjana, membinaan serta mendukung kegiatan positif di kalangan Generasi Muda dan Melestarikan serta
Mengembangkan Budaya Jakarta adalah tujuan yang akan diperjuangkannya (red)

Opini, Ulasan

Istana dan Jubir Ngeyel Bernarasi Persekusi

SOEHARTONESIA.ID

Reformasi menghasilkan kebebasan berbicara, kebebasan berekspresi. Namun, apakah kebebasan itu serta merta membuat semua orang merasa berhak bebas untuk berargumen memaksakan kebenaran dalam versinya sendiri ?

Berdebat dalam mengadu pendapat untuk menguji suatu kebenaran adalah perbuatan yang benar. Berdebat untuk melihat persoalkan dari sudut pandang berbeda tentu bukan sesuatu yang dilarang.

Tetapi soal lain jika kemudian ngotot hanya untuk unggul dalam sebuah perdebatan, sebab unggul dalam perdebatan belum tentu mengusung kebenaran. Boleh jadi unggul yang demikian hanya diperlukan untuk memenuhi ambisi, gengsi atau untuk kepentingan menutupi kegagalan.

Sejak awal gong pemilu 2019 dibunyikan, saya menyaksikan jubir patahana dalam berbagai kesempatan berdebat di TV, miris. Salah satu ciri otoriterisme tergambar dari kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya : memaksakan kebenaran versinya sendiri.

Isu pertarungan idiologi pancasila dengan khilafah, dimunculkan, bicara satu arah, dan tanpa menyertakan bukti. Pemilu yang sejatinya haruslah diisi dengan keceriaan, justru dihadapkan dengan suasana mencekam yang sengaja diciptakan.

Padahal sangat jelas pada posisi kekuasaan ; bahwa kebenaran dalam bertindak tentunya menghasilkan kemuliaan. Lalu pertanyaannya, dari lisan yang demikian itu apakah karena tidak ada kemuliaan yang dihasilkan selama berkuasa ? jika hasil kerjanya benar, tentu tidak perlu berbuih-buih mengiring isu dengan perdebatan otot leher dan menggiring isu yang justru berpotensi memecah belah.

Junjungan yang kalian bela memang kerja karja kerja, tetapi tidak menghasilkan kemuliaan, karena kerjanya tidak benar. Hal itu jelas tergambar dari ucap lisan anda saat membelanya ; memaksakan kebenaran dengan berupaya mengubur fakta dengan menciptakan opini, tentu hal itu juga merupakan bentuk dari otoriterisme. Otoriterisme, bentuknya saja yang berubah.

Sebagai contoh, manakala orang menyoal tindakan Pak Harto yang dikesankan otoriter di era Orde Baru, dikatakan bisa berbuat semaunya, namun di sisi lain nyata hasilnya bisa dinikmati hingga kini. Lalu, sebagian orang yang dulu keras mengatakan demikian, kini, justru mengakui keberhasilan dari apa yang dilakukan pada era itu.

Tentu saja tolak ukurnya adalah kebenaran. Kebenaran itu dilaksanakan tidak terbatas hanya pencitraan. Pada tataran kekuasaan nilai kebenaran dari apa yang dikerjakannya menghasilkan kemuliaan yang akan selalu dikenang.

Jika keberhasilan pemerintahan betul-betul nyata bisa dirasakan masyarakat, tentunya kemuliaan akan menyertai setiap ucapan yang keluar dari juru bicaranya, sehingga Istana tidak lagi membutuhkan jubir ngeyel dengan lisan bernarasi persekusi.

SALAM 

Berkarya, Piye Kabare, Ulasan

Panen Raya di Purbalingga, Tommy Soeharto : Masyarakat Banyak Kecewa dengan Pemerintah Terkait Tatakelola Pertanian

soehartonesia.id,- Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra melakukan kegiatan temu wicara dengan petani sekaligus melakukan Panen Raya di lahan percontohan Pertanian Keluarga Berkarya di daerah Purbalingga Jawa Tengah (Jumat 22 Maret 2019)

Pada lahan yang telah diuji coba dengan menggunakan pupuk cair BREGADIUM itu, Putra mantan presiden Soeharto yang akrab disapa Tommy Soeharto tersebut juga menjelaskan secara detail mengenai keutamaan serta kelebihan penanaman padi dengan menggunakan Pupuk Cair .

“Pupuk Cair ini sudah kita uji, dan terbukti dapat memberikan nilai tambah yang besar untuk petani” ujar Tommy Soeharto dihadapan kelompok tani keluarga Berkarya dan masyarakat Purbalingga.

“Tadi sudah dipresentasikan hasil daripada uji sampling di 5 titik, dan hasil yang kita peroleh dari panen raya hari ini sangat memuaskan,” ujarnya disambut tepuk tangan masyarakat.

Ketua umum Partai Berkarya itu juga merincikan terkait peningkatan hasil panen yang dihasilkan dengan menggunakan pupuk cair.

Tommy Soeharto mengatakan bahwa “perolehan pada panen yang dilakukan hari ini sebesar 10,8 ton per hektar, alhamdulilah berarti ada kenaikan hasil yang signifikan,” tegasnya .

“Selama ini petani hanya dapat memanen 7 ton untuk areal yang sama, namun kali ini bisa mendapatkan kenaikan sejumlah 50 persen pada hasil sebelumnya dari jumlah padi yang dipanen.”

“Dan, ada juga yang sebelummya jumlah padi yang dipanen hanya 6 ton, itu bisa mendapatkan kenaikan hingga 75 persen dari apa yang dihasilkan setelah menggunakan pupuk cair, ujarnya menambahkan.”

“Selain itu, tentunya jika kita lihat dari bulir-bulir padi yang begitu baik, maka akan dapat dipastikan menghasilkan beras yang juga lebih baik.”

“Selain meningkatkan produktifitas, biaya juga bisa ditekan hingga 35 persen, dari yang sebelumnya menghabiskan biaya 2,8 hingga 3,1 juta per hektar untuk biaya yang dikeluarkan membeli NPK, namun dengan pupuk cair cukup mengunakan 12 botol dengan nilai 1,2 juta saja,” ungkap Ketua Umum Partai Berkarya itu.

Masih pada kesempatan yang sama, Tommy Soeharto juga mengajak masyakat bersyukur bahwa program yang sederhana tersebut mampu berhasil dengan luar biasa.

Ketua Umum Partai Berkarya Itu dihadapan masyarakat juga memaparkan ; ” jika saja semua petani di Indonesia melakukan hal yang sama, tentunya tidak hanya Swasembada Pangan yang dapat diraih, tetapi Indonesia dapat menjadi eksportir pangan dunia sehingga akan mendatangkan devisa yang lebih besar dan pada saatnya kita tidak perlu hutang luar negeri lagi.”

Saat disinggung oleh salah satu petani pada sesi dialog mengenai bagaimana petani sangat kesulitan memperoleh pupuk NPK, Hutomo Mandala Putra mengatakan bahwa “memang banyak sekali masyarakat merasa kecewa selama 21 tahun reformasi ini atas tidak tepatnya tatakelola pemerintah, terutama terkait kebijakan yang menyangkut sektor pertanian yang dirasa kurang berpihak pada petani.

Namun ia beranggapan masyarakat tidak perlu membahasnya berpanjang lebar, tetapi harus mulai bersikap untuk mencari solusi dengan melakukan inovasi serta bagaimana kita berkarya untuk meningkatkan hasil pertanian.”

Ia (Tommy Soeharto ) menambahkan pula ; “Partai Berkarya yang sejak awal telah berkomitmen memperjuangkan ekonomi kerakyatan akan senantiasa berdiri di garis depan untuk memperjuangkan nasib pelaku ekonomi kecil dan para petani.” (red)