Apresiasi, Kisah, Memorial, Peninggalan, Tokoh, Ulasan, Wasiat P Harto

Jasa HM Soeharto Dalam Membangun Citra Islam

 

SOEHARTONESIA.ID

Tepat pukul 13.10 WIB hari Minggu 27 Januari 2008,Haji Mohammad Soeharto dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa, setelah 24 hari berada di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menjalani pengobatan terhadap penyakit yang telah lama dideritanya. Kabar meninggalnya H.M. Soeharto, merebak setelah Ketua Tim Dokter Kepresidenan,dr Mardjo Soebiandono, menyatakan kepada pers, di Jakarta, bahwa mantan Presiden Soeharto meninggal dunia di RSPP, pada usia 87 tahun. “Innalillahi Wainalilahi Rojiun, telah wafat dengan tenang Bapak Haji Muhammad Soeharto pada hari Minggu 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB di RSPP Jakarta,” kata Mardjo, dengan nada lirih, dan muka sedih. Kini Soeharto telah tiada. Tetapi jasa-jasanya masih dapat diingat, utamanya jasanya dalam membangun citra Islam. Penulis beruntung, pada 2007 sempat berjumpa dengan almarhum sebanyak dua kali. Pertama pada 8 Juni 2007 pada hari ulang tahunnya ke-86 dan kedua, pada bulan puasa, 1428 H. menjalankan shalat taraweh pada deretan shaf terdepan di Jalan Cendana No 8 Jakarta, Pusat. Menurut mantan Menteri Agama dr. Tarmizi Taher, jasa Soeharto dalam membangun citra Islam di Indonesia, cukup signifikan. Oleh karena itu, banyak orang keliru melihat Soeharto yang dinilai banyak menindas dan menganaktirikan umat Islam di Indonesia, Dia (Soeharto, … red) dibesarkan di lingkungan Muhammadiayah. Dia lahir pada 21 Juni 1921 di Kemusuk Yogyakarta. Jadi selama memimpin pun juga terlihat bekas-bekas dia pernah belajar tentang agama, yang secara khusus masih juga dipengaruhi oleh kultur Jawa. “Saya terkesan dengan pendapat Habib Husein Alatas, tokoh Islam dari Ambon. Pak Tarmizi, katanya, Pak Harto itu punya jasa besar kepada pembangunan Islam. Siapa yang menggagas berdirinya 1.000 masjid di seluruh Indonesia.Pembangunan mesjid dilakukan melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila atau YAMP. Jumlah itu kini belum tercukupi. Tetapi sudah banyak yang terlaksana, sehingga banyak umat Islam mudah dan nyaman dalam menjalankan ritualnya karena ada masjid yang dibangunnya itu. Adakah ormas Islam, atau tokoh Islam yang menggagas ide besar seperti itu, kata Tarmizi mengutip Habib Husein. Jadi ada kesan mendalam bagi umat Islam yang mau mengakui, Pak Harto adalah bukan hanya sekedar Bapak Pembangunan, tetapi juga sekaligus salah satu tokoh pejuang Islam. “Mungkin dengan gagasan yang mulia itulah HM. Soeharto sampai dipanjangkan umurnya hingga 87 tahun,” katanya. Sejalan dengan pernyataan Tarmizi, Alamsyah Ratuprawiranegara mantan Menteri Agama dan Menko Kesra kepada Probosutedjo pernah mengatakan ” Umat Islam itu seyogianya harus berterima kasih kepada Pak Harto, karena tahun 1965, jika Pak Harto tidak cepat mengambil alih kekuasaan, banyak orang Islam akan dibantai oleh PKI”. Peryataan Alamsyah yang dikutip Probo, itu, disampaikan saat para tokoh reformis, khususnya yang juga dari kelompok muslim, banyak mengritik H.M. Soeharto, dan menuduhnya sebagai tokoh yang melakukan korupsi dan menyalahgunakan kewenangan, utamanya dalam pengelolaan yayasan-yayasan yang dipimpinnya. Semua yayasan yang terkait dengan kesehatan masyarakat, pendidikan dan pembangunan masjid-masjid itu, kini sudah diserahkan kepada pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Penyerahan itu, kata Probo, dimaksudkan agar setelah Pak Harto meninggal, tidak ada lagi masalah hukum yang dipersoalkan. “Beliau tidak ingin keluarganya masih diseret-seret urusan hukum terkait dengan pengelolaan yayasan,” katanya. Apa yang disampaikan Alamyah itu, kata Probo, benar adanya, karena ketika Pak Harto masih sehat, juga mengatakan hal sama kepada Probo. “Banyak orang, utamanya generasi dibawah tahun 1960-an, yang kurang memahami sejarah. Tahun 1965, banyak umat Islam yang akan dibantai oleh gerombolan Partai Komunis Indonesia. Tetapi hal itu dapat saya cegah dengan membubarkan PKI, meskipun pengaruh Presiden Soekarno kala itu cukup kuat,” kata Probo mengutip Soeharto. HM. Soeharto juga berpesan kepada Probo, untuk tidak melawan kepada tokoh-tokoh yang mengeritiknya, karena sesungguhnya mereka itu kurang memahami sejarah perjuangan bangsa Indonesia. “Jangan dilawan, karena mereka itu hanya kurang mengerti sejarah lahirnya bangsa Indonesia saja,” kata Probo mengutip pendapat Soeharto. Tak ada jalan pintas Pembangunan yang dilaksanakan di bawah kepemimpinan mantan Presiden Soeharto, baik dibidang keagamaan, politik maupun ekonomi didasarkan pada Garis-garis Besar Haluan Negara/GBHN. Trilogi Pembangunan yang digagas Soeharto mencakup pembangunan dibidang stabilitas politik dan keamanan dan pembangunan ekonomi itu serta pemerataan tentunya tidak semua dapat dilaksanakan secara bersamaan. Tak ada jalan pintas untuk dapat menjalankan roda pembangunan yang dapat menyenangkan semua anak bangsa dalam kurun waktu tertentu. Di bidang politik, misalnya, banyak pengeritik gagasan HM Soeharto yang menghapuskan multipartai menjadi hanya tiga partai, Golkar, PPP dan PDI sebagai upaya” mengebiri” umat Islam untuk menjalankan misinya. Masalah keamanan juga dinilai sangat sangat “otoriter”, dan mengandalkan kekuatan pada TNI dan Polri. Sedang dibidang ekonomi, Pak Harto dikritik terlalu memanjakan kelompok konglomerat, atau kelompok yang kecil yang menguasai perekonomian di Indonesia. Sebut saja, kelompok Liem Sioe Liong., Bob Hasan, Bukaka, dan Ciputra. Semua kritik dibidang politik, keamanan dan ekonomi tersebut, kata sekretaris Pribadi HM. Soeharto, Anton Tabah, dalam buku “Empati di Tengah Badai” merupakan kewajaran, karena yang mendukung dan setuju dengan politik HM. Soeharto, jumlahnya jutaan orang. Surat dari seluruh rakyat Indonesia itu, kata Anton, dikumpulkan sejak 21 Mei sampai 31 Desember 1998. Semua surat berisi mendukung kebijakan Pak Harto dalam berbagai hal, terutama dalam bidang pembinaan keagamaan, dan pemberdayaan ekonomi menengah dan kecil. Anton menyebutkan salah satu surat simpati kepada HM. Soeharto dari Muh. Rustam Fadl, dari Ambon mengatakan, banyak orang tidak adil, selama ini sudah banyak menikmati fasilitas dan pendidikan tingi, karena kebijakan Pak Harto. Akan tetapi setelah terjadi krisis ekonomi, semua kesalahan ditimpakan kepadanya. HM. Soeharto yang dinilai sebagai tokoh pejuang pembangunan ekonomi dan membangun citra umat Islam itu juga diakui oleh sejumlah warga transmigrasi d luar Jawa, khususnya di Sumatera Barat . “Saya kaget ketika melihat siaran di televisi, Pak Soeharto sakit dan terbaring di rumah sakit. Kini beliau (Soeharto) sudah meninggal dunia,” kata Jamino (70) di Kecamatan Koto Baru, Kab. Dharmasraya, Sumbar, satu dari ribuan kepala keluarga asal Wonogiri, Jawa Tengah itu. Bagi warga transmigrasi, kata Jamino, Pak Harto dinilai cukup besar jasanya, dan telah berhasil melakukan pemerataan penduduk, khususnya dari kota-kota di Pulau Jawa ke sejumlah kota di Sumatera. “Beliau (Soeharto) pemimpin yang begitu peduli akan nasib petani dan rakyat kecil,” tuturnya. Ketika Pak Harto jadi Presiden, bila petani mengeluh dan warga kelaparan, dan kemudian dilaporkan ke wartawan, keesokannya pejabat pemerintah sudah langsung datang ke warga. Tokoh seperti itu, kini sudah tak ada lagi. HM. Soeharto meninggalkan masyarakat Indonesia selamanya. Ratusan masjid yang diresmikan masih berdiri. Ada pepatah, Gajah mati Meninggalkan Gading, Pak Harto wafat meninggalkan jasa. 

 

Oleh : Antara.news

HM Soeharto

Tokoh, Ulasan

Tommy Soeharto Jadi Sasaran Hoax 7000 Trilliun

 

” Membunuh atau dibunuh, daripada hilang 7000 trilliun lebih baik hilang 100 trilliun untuk membiayai People Power makan “

 

SOEHARTONESIA.ID,-Angka Rp 7000 triliun itu muncul lagi pada konten sosial media. Kali ini angka itu dialamatkan kepada keluarga Cendana, dan khususnya Tommy Soeharto putra bungsu presiden Soeharto. Pada Conten unggahan Facebook itu, Tommy dituduh sebagai kordinator aliran dana Rp 100 triliun yang akan digunakan untuk membiayai People Power.

Disebutkan pula, bahwa Rp 100 triliun dana yang digelontorkan keluarga Cendana untuk membiayai Poeple power itu untuk menutupi Rp 7000 triliun yang mereka sembunyikan di Bank Swiss. Isu tentang rencana People Power
memang sedang masif bertebaran di lini masa sosial media.

Melalui pelacakan arsip di internet, Konten serupa pernah terbit dalam artikel berjudul “Presiden Jokowi Akan Sita 7000 Trilyun Lebih Hasil Kejahatan yang Disimpan di Swiss,” terbit pada 6 Juni 2016. Sejauh ini, artikel itu adalah artikel paling awal yang menyebutkan nilai fantastis Rp 7000 triliun itu.

Konten artikel pun tercatat terus-menerus diduplikasi menjadi beberapa artikel pada situsweb dan weblog status, Facebook, yang berbeda-beda. Namun, sejauh ini Soal Presiden Jokowi bakal menyita Rp 7.000 triliun aset uang koruptor di Swiss Tidak ada informasi yang jelas, terang, dan spesifik berasal dari mana angka Rp7.000 triliun aset uang koruptor di Swiss tersebut, sehingga kebenaran dari berita serta nominal 7000 triliun tersebut patut diragukan kebenaran-nya.

Dan kali ini kembali artikel tersebut muncul dan disesuaikan dengan isu yang sedang santer bergulir, People Power. Kita ketahui bahwa di jejaring sosial media banyak beredar soal ajakan aksi besar-besaran di Jakarta untuk tanggal 22 Mei 2019 yang akan menyuarakan kekecewaan rakyat terhadap pelaksanaan Pemilu 2019 yang dinilai curang sehingga merugikan Paslon Capres 02 Prabowo -Sandiaga.

Di sinilah titik singgung mengapa keluarga Cendana atau lebih spesifik, Tommy Soeharto, dituduh membiayai gerakan tersebut. Tommy Soeharto adalah ketua umum Partai Berkarya, salah satu partai yang tergabung dalam koalisi pendukung pasangan Prabowo – Sandiaga Uno.

Dalam konten artikel tersebut, ditambahkan pula kesan dramatis bahwa BIN dan Kapolri telah memiliki data dan bukti terkait aliran dana yang disebutnya untuk pembiayaan kegiatan makar. Bahkan, pada unggahnya dilampirkan pula photo Kapolri Tito Karnavian.

Berdasarkan analisa, konten tersebut diunggah oleh akun yang tidak kridibel (anonim) dan jelas bahwa artikel konten yang diunggah tersebut memenuhi unsur Hoax, karena tidak ada dukungan data dan pemberitaan dari media yang kridibel terkait konten serupa. Lalu, dari mana sumbernya ?

Berita Hoax yang berasal dari media sosial akan sangat bertolak belakang. Karena media massa mempunyai sumber resmi. Dan merupakan berita yang berasal dari fakta di lapangan. Selain itu Berita dari media massa telah teruji kebenarannya, sedangkan berita Hoax adalah berita yang sengaja di buat keliru oleh oknum-oknum tertentu untuk membuat masyarakat resah.

Oleh sebab itu masyarakat dituntut lebih cerdas dalam mencermati setiap berita yang beredar di masyarakat, baik itu secara lisan ataupun di media-media sosial yang sumbernya belum ada kepastian untuk sebuah kebenaran dalam suatu berita, dan kita harapkan dalam hal ini aparat atau-pun dinas terkait segara mengambil tindakan tegas terhadap pemberitaan yang nyata-nyata telah meresahkan dan memenuhi unsur Hoax tersebut .

https://www.facebook.com/100024959001460/posts/392702774905019/?app=fbl

 

Ardi
Digital Analyst

Piye Kabare, Ulasan

Propaganda Setan Gundul

SOEHARTONESIA.ID

PKI sudah jauh-jauh hari masuk ke dalam kuburannya. Tap MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menandai “kematian” organisasi komunis itu masih berlaku hingga hari ini .

Namun pertanyannya, apakah para pendukung PKI ( Partai Komunis Indonesia ) kemudian jera dalam mengejar cita-cita mereka ?
Sebuah pertanyaan besar nan sensitif untuk sekedar dijawab dengan tidak atau , iya .

Saya menyimak beredar di sosial media berbagai potongan gambar mengenai seorang politisi yang menulis buku berjudul “Aku Bangga Jadi Anak PKI”, saya belum pernah membacanya, jika bangga dalam konteks Biologis, sah.

Namun, jika kebanggaan yang dimaksud itu dalam konteks Idioligis, jelas ini akan menimbulkan persepsi bahwa bahaya laten itu mulai tampak nyata. Judul buku yang dipakai oleh penulis menimbulkan multi tapsir, dan bagi saya justru mengandung unsur propaganda.

Mengapa demikian ? Karena masyarakat kita masih trauma dengan sejarah kelam bersimbah darah ulama, rakyat jelata, bahkan 7 jendral yang dibantai dengan biadab dalam upaya pemberontakan yang dilakukan PKI.

Tidak hanya sekali, tercatat dalam sejarah, PKI tiga kali telah mencoba melakukan penghianatan terhadap bangsa indonesia dan apapun alasannya, sejarah tetap harus dijadikan pelajaran. Sampai saat ini tidak ada fakta sejarah baru terkait penghianatan PKI tersebut, yang banyak adalah tapsir baru, dan tapsir itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa PKI adalah korban.

Pancasila sebagai dasar negara dengan komunisme yang merupakan idiologi PKI tidak pernah akan bisa berdampingan , terbukti, NASAKOM (Nasionalis,Agamis, Komunis), presiden RI pertama Sokarno gagal dengan konsep ini.

Komunis , matrialistis. Sedangkan unsur ke-Tuhanan dijunjung tinggi pada sila pertama pancasila. Disadari ataupun tidak, kita bersepakat bahwa perbedaan adalah Sunatullah.

Miskin dunia belum tentu miskin akhirat dan kaya dunia belum tentu kaya akhirat. Cita-cita tertinggi masyarakat beragama bukanlah meraih dunia semata, namun bukan berarti tidak mementingkan dunia, karena bagi masyarakat beragama dunia adalah alat untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat, dan ini sangat bertetangan dengan idiologi Komunis. Itulah sebab mereka mengatakan Agama Adalah Candu.

Kita sebagai bangsa telah bersepakat, final, bahwa pancasila yang menjunjung tinggi nilai ke-Tuhanan kita jadikan dasar negara. Tentunya, hal ini harus terus kita jaga sampai kapanpun.

Pada potongan video yang dikirimkan seorang kawan kepada saya, video berisi wawancara penulis buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI,” ia mengatakan dengan gamblang bahwa saat ini anak keturunan dari orang-orang yang dulu adalah anggota partai Komunis Indonesia saat ini sudah berjumlah 15 juta jiwa, itu belum jika dihitung dengan tingkatan cucu.

Jika jumlah itu dianggap banyak dan kemudian bagi orang-orang tertentu dianggap sebagai potensi kekuatan baru untuk
membangkitkan “Setan Gundul”
( Kalimat pak Harto untuk menyebut PKI ) yang sudah terkubur sekian lama, maka, jelas, jumlah itu masih tak ada artinya, dan untuk hidup berdampingan dengan anak bangsa di Indonesia ini, maka ideologi komunis sebagaimana yang dianut oleh leluhurnya mutlak harus ditinggalakan, karena Pancasila sudah final.

 ( ARDI )

Piye Kabare, Sosial, Ulasan

Rakyat Sedang Menghukum Penguasa Dengan Angka – Angka

 

Soehartonesia.id

Meja bundar dari kayu jati kelas satu. Piring kristal bersanding dengan botol minuman air mineral premium yang, jujur, seumur hidup belum pernah aku merasakan bagaimana rasa airnya.

Ruangan besar tempat elit -elit partai politik berkumpul usai pesta pemungutan suara yang katanya berjalan demokratis.

Ya , sekolompok elit partai yang dalam 4,5 tahun terakhir ini mengatur jalannya pemerintahan, elite partai politik pendukung penguasa. Pada photo yang beredar di sosial media itu, sama sekali tak kita ketemu jejak kegembiraan terpancar dari wajah-wajah mereka .

Namun apalah daya  “negara ini menganut sistem demokrasi,” ujar seorang kawanku. “Suka tak suka, pemilihan umum harus dilaksanakan.” Pesta demokrasi yang akan berujung pahit bagi mereka.

Jejak sukses penguasa idola media ternyata, nihil. Kalaupun sukses itu ada, tak lebih hanya propaganda yang dilakukan secara masif melalui corong media berbayar yang nyata-nyata jelas menghambakan diri pada rupiah.

Tanpa kejernihan nurani, salah satu pilar demokrasi itu tega memproduksi kebohongan demi kebohongan untuk menutupi kegagalan junjungannya dalam mengatur negara . Tetapi, rakyat sudah lelah. Rakyat sudah muak dibohongi. Pemilu menjadi pengadilan rakyat yang akan menjatuhkan hukumannya.

Namun, penguasa tetaplah penguasa, singgasana kekuasaan itu terlampau manis untuk dilepaskan. Atau, mungkin terlalu beresiko untuk ditinggalkan. Terlampau banyak kebohongan untuk menutupi kerakusan para kroninya dalam mengeruk ibu Pertiwi untuk kepentingan pribadi.

Segala bentuk manipulasi pun dirancang untuk melanggengkan kekuasaan. Membentuk pasukan intelektual demi menggiring opini kemenangan, memborong Intelektual yang nyaris tidak ada jejak kecerdasan hati dalam langgam lisannya.

Mereka diberi tugas untuk bermain dengan logika angka-angka di layar kaca, untuk menutupi kecurangan yang telah mereka rancang. Namun tetap saja : sederet intelektual itupun tak mampu membuat mereka tersenyum ceria. Karena faktanya : rakyat sedang menghukum mereka dengan angka-angka .

@bengkeldodo

 

Apresiasi, Opini, Tokoh, Ulasan

Maka, Bersiaplah

SOEHARTONESIA.ID

Oleh : Hutomo Mandala Putra
Ketua Umum Partai Berkarya

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, dengan rakyat yang siap berjuang di garda-garda terdepan, dan hal itu bukan cerita dongeng belaka.

Tercatat dengan tinta emas sejarah, bangsa kita pernah mebuktikan dengan merebut kemerdekaannya serta mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan yang berdaulat dan berkeadilan.

Bangsa kita pernah sampai pada masa gemilang, dari sebuah bangsa yang mengalami kesulitan pangan, kita dapat membalik keadaan hingga pada satu masa petani kita mampu menyumbang 100 ribu ton beras untuk menyelamatkan satu belahan dunia yang terancam kelaparan.

Dan, kini kita hanya bisa mengenangnya, tanpa mampu mengulanginya.

Sejatinya tidak ada yang berubah. Bangsa ini masih bangsa yang sama. Bangsa yang senantiasa menjunjung tinggi ke-Indonesiaannya. Bangsa yang telah bersepakat menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbagsanya.

Kita hanya kehilangan figur. Kita kehilangan panutan. Kita kehilangan figur pemimpin, pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, Berkarya bersama meraih cita-cita.

Kita kehilangan pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan yang solid.
Kita kehilangan figur pemimpin yang sikap, perbuatan, dan perilakunya lebih mendahului ucapannya.

Karena seberapa agung dan besarnya sebuah bangsa, Keteladanan itu akan selalu dibutuhkan. Karena, konsep pemahaman manusia membutuhkan penyampaian kebenaran yang baik ; bahwa kebenaran yang akan menghantarkan kepada kebaikan, kebermanfaatan, dan kemenangan.

Kita membutuhkan keteladanan dari seorang pemimpin, bukan yang bermain-main di ranah teori yang tidak dapat diimplementasikan dalam kehidupan.

Kita membutuhkan keteladanan dari seorang pemimpin yang mampu menciptakan karya nyata, untuk kemajuan bangsanya.

Bangsa ini harus mulai berbenah, berbenah untuk lepas dari penjajahan hutang luar negeri yang membuatnya malu menegakkan kepala dihadapan bagsa lain.

Dan, bangsa ini harus mulai Berkarya nyata tanpa ditunggangi kepentingan asing. Karena, bagaimana mungkin kita akan sampai pada adil dan makmur jika ternyata kita tidak berdaulat di atas tanah milik leluhur kita sendiri.