Politik, Sosial

Emak-emak Menjadikan Dapur, ya Ruang Redaktur

SOEHARTONESIA – Banyak orang akan menjadi saksi sejarah di era gegap gempita internet dan sosial media ini. Karena, jejak digital itu nyata.

Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan ada kekuasaan yang takut hanya dengan kalimat tagar #2019GantiPresiden.

Namun dunia telah berubah. Era sosial media menjadi arena baru pergulatan politik yang dinamikanya begitu tampak bergulir cepat. Medan-medan pertempuran opini sudah masuk pada ranah-ranah private; jutaan orang saya yakini menerima pesan #2019GantiPresiden itu di ponsel pintar mereka.

Ibu-ibu yang belakangan lebih bangga dipanggil emak-emak, karena ada taste pergerakan pada kalimat itu, membuat pergerakan politik tak lagi berbasis diskusi-diskusi khusus.

Dapur, Salon, Mall, bahkan teras tunggu di sekolah-sekolah taman kanak-kanak telah berubah menjadi ruang ruang-ruang diskusi politik, membahas konten untuk diunggah pada kanal-kanal Sosial media melalui diskusi di grup-grup WhatsApp.

Dan, tentunya realita beban ekonomi yang kian berat, merekalah yang lebih memahami secara mendetail; merinci kenaikan harga Cabe, Bawang Merah, Tarif dasar listrik, pun mereka mampu melakukan komparasi terhadap kualitas Beras Impor dan Lokal.

Dari jempol-jempol mereka bermunculan lah konten-konten natural yang mencerminkan kegundahan. Bahkan, Menteri Perdagangan pun mati gaya berhadapan dengan emak-emak yang menyuarakan protes keras mereka terhadap realita ekonomi pada kanal-kanal sosial media mereka.

Tidak sampai di situ saja, saya sempat berbincang dengan rekan yang termasuk juru bicara di Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi; untuk saksi TPS pada pemilu 2019 ini, emak-emak itulah yang dominan mendaftar untuk menjadi saksi, tanpa diminta, luar biasa.

————————-
Oleh : Okky Ardiansyah

Berkarya, Politik

Partai Berkarya Kuningkan Tolikara, Papua

SOEHARTONESIA.ID

Kampanye Partai Berkarya di Kab.Tolikara Kota Karubaga, bertempat di lapangan Merah Putih Karubaga, berjalan sukses dan dihadiri ribuan masyarakat.

Kegiatan kampanye politik partai dan para Caleg Partai Berkarya tersebut dibuka dengan prosesi Sorak – sorakan adat dari para Pendukung calon yang kemudian dilanjutkan sambutan dari Pengurus Partai Berkarya, Serta orasi dari masing-masing calon legeslatif dari Partai Berkarya.

“Dengan hadirnya Partai Berkarya di Papua tentunya akan memberikan satu trobosan pembangunan yang lebih baik dari sebelum-nya, terutama disektor pembangunan berlandaskan ekonomi kerakyatan,” ujer Hutomo Mandala Putra, Ketua Umum Partai Berkarya saat ditemui tempat terpisah (Rabu 10 April 2019 )

Putra Mantan Presiden Soeharto itu dalam keterangannya menambahakan, bahwa “Partai Berkarya Bertekad fokus pada pengembangan ekonomi kerakyatan, khususnya di Papua konsep ekonomi kerakyatan harus berkembang menjadi program nyata, karena untuk mencapai kedalutan ekonomi maka mutlak yang harus dilakukan adalah melaksanakan dengan konsekwen program ekonomi yang berbasis ; dari, oleh, dan untuk rakyat.”

Sebagai percontohan, Partai Berkarya juga telah mengambangkan Peternakan Terpadu di Sentani, Jayapura ; yakni peternakan moderen yang berbasis teknologi mandiri energi, energi yang dihasilkan dari pemerosesan kotoran ternak yang kemudian dijadikan biogas sehingga dapat digunakan untuk penerangan dan kebutuhan memasak, selain itu, urine ternak juga diproses menjadi pestisida alami dan ampasnya dapat dijadikan pupuk untuk pertanian,” ujar Tommy Soeharto.

Ia menambahkan, “sebab, sektor pertanian dan peternakan itu adalah bagian terbesar penopang ekonomi masyarakat, namun faktanya, pengembangan teknologi pertanian dan peternakan kita justru kalah dengan negara-negara tetangga, tentunya hal itu lah yang harus dibenahi untuk mendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di Papua dan secara nasional pada umumnya, karena dengan mengembangkan sektor tersebut, maka secara otomatis juga berdampak besar bagi tumbuhnya sektor-sektor lain sehingga tentunya akan berdampak juga pada pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya. (F,Wid)

Opini, Politik, Tokoh

Raslinna Rasidin : Survei Internal Partai Berkarya Menunjukan Trend Positif

SOEHARTONESIA.ID

Banyak kalangan Artis yang pada pemilu 2019 ini terjun berlaga untuk

memperebutkan kursi parlemen, Salah satunya Raslinna Rasidin. Artis yang juga satu-satunya duta kemanusiaan Indonesia yang pernah diundang untuk berbicara di depan forum PBB di AS terkait kasus-kasus Human Trafikking itu maju sebagai kandidat Calon Legeslatif (DPR-RI) melalui partai Berkarya, partai besutan Hutomo Mandala Putra atau yang akrab disapa Tommy Soeharto, putra mantan presiden RI Ke – 2 .

Jamak kita ketahui bahwa Faktor popularitas dan finansial dikatakan dapat mendongkak elektoral partai agar selamat dari penerapan ambang batas parlemen pada pemilu 2019 ini, sehingga kemudian banyak partai politik menggunakan Calon Anggota Legislatif (Caleg) artis sebagai kader mereka untuk mendongkrak suara partai demi lolos Parliamentary Threshold (PT) 4%.

“Parpol merekrut artis untuk mendongkrak elektabilitas partai politik, itu sah saja, dalam undang-undang telah jelas bahwa setiap warga negara berhak memilih dan untuk dipilih, termasuk untuk profesi artis,” ia, Raslinna, menambahkan ; selain itu di kalangan artis banyak sekali yang punya kapasitas bagus, kredibel, dan berintegritas.”

“Namun tentunya tidak hanya dengan mengandalkan populeritas itu saja, dalam politik tentunya ada kerja-kerja yang berbeda dengan profesi artis, perlu kerja-kerja politik basis elektoral serta kerja-kerja politik yang menghasilkan elektabilitas, seperti terjun langsung dalam kegiatan-kegiatan sosial.

“Contohnya Kami, di Partai Berkarya, kami lebih mengedepankan kerja dan karya, kebetulan saya juga termasuk penggiat UMKM yang sudah berkecimpung lebih dari 10 tahun sebagai konsultan berbagai instansi pemerintah terkait UMKM dan itu sejalan dengan konsep ekonomi kerakyatan yang diusung partai,” ujar Raslina menambahkan.

Disinggung mengenai Partai Berkarya yang diprediksi oleh beberapa lembaga survei tidak lolos ambang batas parlemen PT4 persen, Raslina mengatakan yang menentukan lolos tidaknya partai bukan lembaga survei, tetapi pemilih.”

Ia menambahkan, partai, kader dan para Caleg partai Berkarya telah menunjukkan hal positip dengan berbagai kegiatan-kegiatan terjun ke masyarakat, dan masyarakat tentunya menilai positip.”

“Selain itu, tentunya kami juga memiliki hasil survei internal sebagai acuan, dan sejauh ini, jelang 17 April, hasil survei internal kami, baik itu survei berbasis analisa digital maupun survei yang dilakukan langsung di lapangan khususnya untuk partai Berkarya, semakin menunjukan hasil yang positip,” tutup Raslinna. (Red)

Berkarya, Politik, Tokoh, Ulasan

Mengenal Muhammad Abubakar Maulana, SE. Caleg Muda Partai Berkarya

SOEHARTONESIA.ID,-  Kaum Milenial merupakan jumlah pemilih terbesar pada pemilu 2019 ini, tentunya setiap partai politik berkepentingan untuk dapat menarik simpati mereka, dan salah satu cara untuk mendapat perhatian calon pemilih muda itu dengan adalah dengan menempatkan kader muda terbaiknya untuk terjun mencalonkan diri sebagai anggota legeslatif.

Hutomo Mandala Putra, Ketua Umum Partai Berkarya pada satu kesempatan mengatakan : “Tentunya berdasarkan berbagai latar lelakang pertimbangan, partai Berkarya berharap dengan masuknya pemuda sebagai legislator, maka akan membawa era baru dalam perpolitik di tanah air, menghadirkan kesegaran yang baru, lebih agresif dan tentunya anak muda akan lebih dapat mahami aspirasi golongan milenial tersebut.”

Sejalan dengan apa yang dikatakan ketua umum partai Berkarya itu, menurut Muhammad Abu Bakar Maulana, S.E, Caleg muda Partai Berkarya untuk di dapil XI DKI saat ditemui di kediamnanya

“Anak muda harus terus di-rangsang untuk berpolitik, masuk dalam partai politik agar tidak hanya mampu mengkritisi dari luar sistem, tapi punya tanggung jawab untuk terlibat langsung, ujar putra dari pasangan Sidik bin Arsudin dan Hj. Waznah binti KH. Abdullah Bin Iweng. Cucu dari Ulama Pedongkelan, Cengkareng itu.

“Mau tidak mau suka tidak suka, keterlibatan anak muda yang cenderung idealis sangat dibutuhkan di dunia politik,” tukas putra dari pemegang kitab Pakem Banten itu menambahakan.

Muhammad Abu Bakar Maulana atau akrab di-sapa dengan panggilan Alan, menghabiskan masa kecil di Pedongkelan, Cengkareng Jakarta Barat. Dibesarkan dalam tradisi keluarga Santri dari Ibunya yang masih Keturunan Jid Doel / KH. Abdul Ghoni Bin KH. M. Zein Bin Muqri Bin Sama’un Basmol, Kembangan Jakarta Barat, dan sejak kecil belajar ilmu Agama Islam, Serta di- didik Jawara oleh Ayahnya.

Caleg Muda Berkarya Dapil DKI IX yang sudah mulai aktif di berbagai organisasi sejak dibangku sekolah itu menegaskan bahwa dirinya bukan mendadak Caleg, pada pertengahan tahun 2017 Ia Ikut Mendirikan Partai Berkarya tingkat Provinsi DKI Jakarta dan pada tahun 2018 Ia menjabat Sebagai Ketua Bidang DPW DKI Jakarta.

“Alhamdulilah, walaupun berbagai kesibukan organisasi, di tahun yang sama saya tetap berupaya untuk melanjutkan study S2, dan keputusan saya untuk turut mencalonkan diri sebagai anggota DPR-D DKI adalah tekad Jihad Konstitusi yang ingin saya perjuangkan demi tercapainya warga yang Religius dan Bersolusi, ujar Mahasiswa yang mendapat Peringkat 1, Calon mahasiswa terbaik di Universitas Al Azhar Indonesia Jurusan Megister Ilmu Hukum itu.

Calon Legislatif DPRD Provinsi DKI Jakarta di Dapil IX : Kec.
Cengkareng, Kalideres dan Tambora yang di Internal Partai Berkarya dipercaya sebagai Wakil Sekretaris dalam Tim Pemenang Partai Berkarya DPW DKI Jakarta itu saat ini juga terlibat menjadi Pengurus Badan Pemenangan Provinsi (BPP) di DKI Jakarta untuk pasangan Prabowo-Sandi.

Caleg muda paryai Berkarya yang juga Cucu dari KH. Syarifuddin Abdul Ghoni Lc, M.A tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Umum MUI DKI 2013-2018 dan saat ini menjabat sebagai Rais PBNU 2015 – 2020, Ia mengatakan akan konsen pada permasalahan penyediaan pekerjaan yang berkelanjutan, Penataan Kota Jakarta yang Berbudaya, Strategis dan berazaz Kekeluargaan.

Selain itu menurutnya, Perawatan kesehatan yang layak , pengangkatan Guru Honorer, mensejahterakan Guru Pesantren serta Pendidikan berkualitas yang Gratis Hingga Sarjana, membinaan serta mendukung kegiatan positif di kalangan Generasi Muda dan Melestarikan serta
Mengembangkan Budaya Jakarta adalah tujuan yang akan diperjuangkannya (red)

Opini, Politik

Elektabilitas Kekar Ditopang Survei Berbayar ?

 

Oleh : Okky Ardiansyah 

soehartonesia.id,- Merakyat, sederhana, kerja.. kerja.. kerja. Pada awalnya persepsi itu yang muncul, representasi dari figur Jokowi. Ditambah lagi dengan tagline: “alam merestui,” yang digencarkan melalui berbagai tulisan di media sehingga sebagian besar masyarakat Indonesia berasumsi demikian. Jokowi saat itu betul-betul media darling. Itu lah yang kemudian menghantarkannya ke istana.

Representasi adalah proses pemaknaan kembali sebuah objek/fenomena/realitas yang maknanya akan tergantung bagaimana seseorang itu mengungkapkannya melalui bahasa.

Representasi juga sangat bergantung dengan bagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang melakukan representasi tersebut.

Jargon-jargon yang digunakan tim kampanye Jokowi pada 2014 lalu harus diakui, tepat, mengena. Mayoritas masyarakat Indonesia merasa Jokowi adalah representasi diri mereka, ditambah lagi dengan bunga-bunga janji pertumbuhan ekonomi yang meroket dengan “tidak perlu berhutang, karena uangnya ada, tinggal kerja.. kerja.. kerja..”

Bahasa-bahasa sederhana itu benar-benar menukik tajam sampai pada masyarakat, membentuk persepsi sesuai yang diinginkan.

Kini setelah 4,5 tahun pemerintahan Jokowi, apa yang dikampanyekan ternyata tidak berbanding lurus dengan hasil kerja.

Di berbagai ulasan media, setidaknya ada beberapa pokok kegagalan yang dijanjikan pemerintahan Jokowi dalam bidang ekonomi: Tidak tarcapainya pertumbuhan ekonomi seperti yang dijanjikannya, yakni pada angka di atas 7 persen. Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS justru malah melemah, dan daya beli masyarakat serta ritel, anjlok.

Pada pilpres 2019 kali ini, begitu tampak tim kampanye Jokowi justru menghindari pembahasan terkait kegagalan di bidang ekonomi tersebut. Sejauh ini dalam berbagai debat yang kita saksikan di berbagai Channel televisi nasional, tim kampanye Jokowi justru berusaha mengalihkan isu-isu terkait kegagalan janji kampaye Jokowi pada 2014 lalu.

Bahkan menjadi terasa aneh, justru lebih agresif menyerang, dan tak jarang dalam debat publik mereka menyerang pribadi. Namun, masyarakat menilai, dan elektabilitas Jokowi jelang 17 april hanya kekar ditopang survei yang oleh banyak kalangan justru diragukan netralitasnya.

Mengutip apa yang dikatakan Steven Davidovic, satu-satunya ilmuan AS yang memprediksi kemenangan Donald Trump atas Hilary, Ia mendasarkan analisanya dengan menggunakan pendekatan Google trends, mengatakan: “Everybody Lie”, hari ini semua orang berbohong, bahkan kepada dirinya sendiri. Orang tidak berbohong hanya kepada media sosial, dan jika kita menyimak konten-konten kreatif di sosial media, pasangan Prabowo Sandi begitu kekar, begitu pula dengan hasil analitik Google Trends.

Pilpres sejatinya adalah pertarungan persepsi, bagaimana kandidat memunculkan persepsi untuk mendulang simpati, dan begitu terasa pada pemilu ini tim Jokowi kesulitan menemukan formula untuk meraih simpati melalui digital pun sosial media yang medan pertarungannya dikuasai relawan Prabowo- Sandi.