Kisah, Memorial, Piye Kabare

Bencana Perlu Aksi Nyata, Bukan Aksi di Depan Kamera

 

Oleh : H. ANHAR ,SE
Politisi Partai Berkarya

 

“Salah satu alasan mengapa Tuhan memberikan Hati dan kekuatan pada kita sebagai manusia adalah agar kita dapat menolong sesama.”

Entah di mana saya pernah mendengar atau membaca kutipan bijak itu, seingat saya sejak bencana Tsunami Aceh, yang pasti saya telah menyimpannya di dalam Qolbu.

Tahun 2004 silam, saya mendapat kesempatan mejadi anggota DPR-RI dapil Aceh melalui partai baru yang dinahkodai almarhum KH. Zainudin MZ, Partai Bintang Reformasi (PBR).

Saya lahir di Kabupaten Semeulue, pulau kecil yang walaupun masuk wilayah Aceh namun keseharian di wilayah kami tidak menggunakan bahasa Aceh. Sejak tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya pun sudah merantau meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan ke pulau Sumatera.

Hal itu lah kiranya yang semakin membuat, jangankan mengerti tentang seluk beluk masyarakat Aceh, bahkan bahasa Aceh-pun saya tidak fasih lagi. Namun, hanya satu yang menjadi pegangan saya dalam hidup ini bahwa Ikhtiar dan niat berjuang untuk turut meyuarakan aspirasi masyarkat Aceh tidak akan pernah menghianati hasil.

Dengan hanya berbekal amunisi logistik yang seadanya, saya terjun untuk mensosilisasikan diri dan Partai kepada Masyarakat Aceh, saat itu sebelum terjadi bencana besar Tsunami .

Sosialisasi saya lakukan hanya dengan beberapa orang Tim saja. Masuk kampung keluar kampung. Memang, sangatlah tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat Aceh yang telah sedemikian tertanam kuat di dalam benak mereka bahwa para caleg yang turun ke lapangan hanya mengharap suara mereka saja, setelah terpilih jangankan peduli, datang kembali untuk ber-silahturahmi saja tidak.

Pada satu kesempatan saya bertemu dengan seorang kawan yang ber-tutur bahwa ada sebuah desa yang masyarakatnya sedang membangun Masjid, ia beranggapan mungkin saya bisa turut terjun ke sana untuk memberikan bantuan.

Tanpa pikir panjang kami berangkat, entah apa yang mendorong saya saat itu, tidak lama usai saya berjumpa, diberi wejangan oleh ustad sepuh ketua panitia pembangunan Masjid serta bersilahturahmi dengan beberapa warga tokoh masyarakat desa, saya merasakan ada dorongan kuat untuk menyumbangkan semua uang yang tersisa, menyelesaikan pembangunan masjid itu, dan saya tidak berfikir lagi untuk melakukan sosialisasi kemanapun. Tujuan saya hanya bagaimana agar masjid itu segera rampung. Lalu, saya kembali ke Jakarta .

Pendek kisah, saya terpilih sebagai wakil masyarakat Aceh untuk duduk di DPR-RI pada priode 2004-2009. Jangankan rekan-rekan yang merasa heran dengan perolehan suara saya, bahkan saya sendiripun demikian, dan alhamdulilah selama saya duduk di DPR-RI tidak satupun daerah di dapil saya yang tidak kembali saya
kunjungi .

Tsunami Aceh

Saat kejadian Bencana Tsunami Aceh, salah seorang adik perempuan saya kebetulan tinggal di Banda Aceh, bencana itu terjadi berselang beberapa hari usai saya meninggalkan Aceh dalam kunjungan dinas sebagai anggota DPR.

Berminggu-minggu kami tak mendengar kabar saudara perempuan saya itu, turut menjadi korban-kah, kami tak henti-henti berdoa sampai pada satu hari ia menelepon dan menghabarkan bahwa ia baik-baik saja.

Berkisah, saat kejadian ia sedang berada di jalan lalu tiba-tiba kepanikan terjadi dan ia hanya bisa berlari sekencang-kencangnya. Entah dari mana tiba-tiba ada seorang pria paruh baya mengunakan sepeda motor menghampiri dan menawarkan untuk mem-boncengnya.

Tanpa berfikir panjang ia naik ke boncengan, melaju meninggalkan kepanikan dan ujung air bah yang semakin mendekat, semakin menjauh, lalu sampailah di sebuah Masjid, dan sebelum meninggalkan saudara perempuan saya pembonceng sempat berpesan : berlindung di sini saja dik, Insya Allah aman. lalu, laki-laki paruh baya itu meninggalkannya pergi.

Saya tertegun mendengarkan penuturannya, karena lokasi yang ia ceritakan tidak asing dengan gambaran yang ada di benak saya. Kemudian, saya tanyakan dengan detail : di Masjid mana ia berlindung, bagaimana ciri dan bentuk masjid tersebut. Lalu, apakah masjid itu tidak terdampak Tsunami. Terdampak, namun tidak seberapa, ujarnya bercerita.

Maha Besar Allah, masjid masih berdiri kekar, dan saudara perempuan saya itu berlindung di Masjid yang saya tuturkan di atas.

Tsunami Banten

Bencana Tsunami Banten dan Lampung adalah duka kita bersama sebagai anak bangsa. Tentunya, yang diperlukan adalah aksi nyata untuk sesegera mungkin menanggulangi dampaknya .

Mempolitisasi musibah dengan berbagai pola pencitraan bagi saya adalah musibah politik yang menimpa bangsa ini. Menjadikan bencana sebagai komoditas politik merupakan contoh nyata politik menghalalkan segala cara.

Mari bersama membersihkan hati, terutama bagi pemimpin di republik ini. Apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin adalah membantu, bukan memperalat.

Sepantasnya dalam situasi bencana, seorang pemimpin harus bersikap untuk membangun kepedulian, bukan datang hanya untuk ber-aksi di depan kamera.

Berbuatlah layaknya seorang pemimpin, dan jika langkahmu benar, Tuhan Yang Maha Esa akan melipat gandakan balasan lebih dari yang bisa kau bayangkan. Lebih dari hasil perhitungan teory pencitraan yang kau bangun hanya untuk mendongkrak elektabilitas semata.

 

Saya tulis untuk memperingati Bencana Tsunami ke -14 di Banda Aceh yang jatuh pada hari ini. Semoga Allah Mengampunkan Dosa Para Korban, dan Melindungi NKRI dari Segala Bencana, Zhohir maupun Bathin. Amin amin ya Rabb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: